Suluruh
bagian tubuh wanita memang penuh pesona bagi pria. Mulai dari ujung rambut,
kening, alis, mata, hidung, bibir, dagu, dada, pinggul, hingga unjung kaki pun
memiliki daya pikat luar biasa. Semakin lama dipandang maka semakin meningkat
daya sensualnya, bahkan bisa membangkitkan gairah seksual dan mendorong
perbuatan mesum. Oleh karena itu, seorang pria harus mampu mengendalikan
pandangannya kepada wanita. Inilah tips mengendalikan pandangan yang ber-NAFSU
SETAN.
Ketahuilah,
bahwa ada kejadian-kejadian pandangan yang tidak mungkin bisa dicegah oleh
seorang pria. Yaitu, pandangan yang tiba-tiba kepada wanita. Pandangan yang
tidak disengaja. Misalnya ada seorang wanita berjalan di jalan umum lalu secara
tiba-tiba terjatuh dan tersingkaplah kainnya sehingga terlihatlah rambut,
leher, dada, paha atau betisnya dari pandangan seorang pria. Kejadian ini
---melihat aurat wanita secara tiba-tiba—tentu saja tidak bisa dihindari karena
tanpa ada kesengajaan.
Begitu pula, ketika seorang pria dipanggil/ditegur oleh seorang wanita untuk melakukan jual-beli, sewa-menyewa, atau aktivitas muamalah lainnya maka dia tidak mungkin mencegah untuk melihat ke arah (wajah) wanita tersebut. Karena pandangan pria itu dapat dimaksudkan untuk mengetahui wanita mana yang akan melakukan interaksi dengannya agar dapat membedakan dengan wanita lain, dan agar kelak tidak salah ketika hendak menghubunginya lagi.
Hanya
saja, baik pandangan yang tiba-tiba (tidak disengaja) dan pandangan pertama itu
tidak boleh dilanjutkan dengan pandangan kedua dan seterusnya. Karena, setelah pandangan
tiba-tiba maka pandangan berikutnya berarti disengaja (untuk melihat aurat
wanita). Begitu pula, setelah pandangan pertama maka pandangan berikutnya (apalagi
diulang-ulang) akan membangkitkan gairah seksual dan perbuatan dosa.
Lalu bagaimana menyikapinya?
Sebenarnya,
aurat wanita itu seluruh bagian tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya.
Memandang wajah dan kedua telapak tangannya –dengan pandangan biasa tanpa
syahwat– adalah mubah secara mutlak. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya
seorang anak perempuan jika telah haid (baligh), tidak boleh terlihat dari
dirinya kecuali wajah dan kedua tangannya hingga pergelangan tangan.” (HR
Abû Dâwud).
Akan tetapi, pandangan yang terus-menerus akan dapat membangkitkan nafsu syahwat, --apalagi dengan (niat) sengaja untuk mencari kenikmatan dan kepuasan syahwat--, maka pandangan tersebut dilarang Rasulullah SAW. Sebagaimana Alî RA menuturkan, bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: “Janganlah engkau ikuti pandangan pertama dengan pandangan berikutnya. Karena pandangan pertama adalah untukmu, sedangkan pandangan berikutnya bukanlah untukmu” (HR Ahmad, dari jalur Buraidah).
Adapun
memandang aurat wanita –selain wajah dan telapak tangannya, seperti rambut,
leher, dada, kaki, dsb—secara tiba-tiba, pada mulanya tidak mengapa. Akan
tetapi, pandangan berikutnya dilarang. Jarîr ibn ‘Abdillâh berkata: “Aku
pernah bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai pandangan yang tiba-tiba (tidak
disengaja). Maka Beliau menyuruhku untuk memalingkan pandanganku.” (HR
Muslim).
Masalahnya, pada era sekarang kondisi masyarakat di negeri-negeri Islam apalagi di negeri-negeri Barat dengan aturan hidup yang kufur sangat sulit bagi pria menjaga pandangannya. Karena, betapa para wanita baik yang Muslimah maupun non-Muslim (tidak ada bedanya) senang menampakkan auratnya. Ketika keluar dari rumahnya, di jalan umum, pasar, toko dan sebagainya, mereka suka menampakkan rambut, leher, punggung, dada, lengan dan betisnya.
Lalu,
bagaimana cara menghindari memandang aurat wanita tersebut? Padahal seorang
pria tidak mungkin hidup di dalam rumah terus, dan tak mungkin dia hidup di
tengah-tengah masyarakat seperti itu tanpa melihat aurat wanita.
Kalihatannya hanya ada dua cara praktis yang dapat dilakukan oleh seorang pria untuk menghindari dosa dari akibat melihat aurat wanita. Pertama, jangan mengulangi lagi memandang aurat wanita yang tampak secara tiba-tiba sebagaimana kedua hadits (riwayat Muslim dan Ahmad) tersebut di atas.
Kedua,
memalingkan atau memundukkan pandangan ketika
bercakap-cakap dengan wanita yang menampakkan auratnya. Hal ini sesuai dengan
perkataan (hadits) dari Abdullâh ibn ’Abbâs RA: Suatu ketika, al-Fadhl ibn
‘Abbâs membonceng Nabi SAW, lalu datang seorang wanita dari Khats‘am. Al-Fadhl
lantas memandang wanita itu dan wanita itu pun memandangnya. Maka Rasulullah
memalingkan wajah Fadhl ke arah yang lain”. (HR Bukhari).
Begitu pula firmanNYa: “Katakanlah kepada laki-Iaki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya.” (TQS an-Nûr [24]: 30). Makna ghadhdh al-bashar (menahan pandangan) adalah khafadhahu (menundukkan pandangan).
Demikianlah
solusi praktis bagi persoalan pria dalam menghindari perbuatan dosa dari memandang
aurat wanita yang banyak tampak di kehidupan umum. Tetaplah dengan menundukkan
pandangan dari tersingkapnya aurat wanita sekalipun harus tetap melakukan aktivitasnya
(karena penting) saat membicarakan sesuatu dengan seorang wanita, naik
kendaraan umum, istirahat di balkon karena kegerahan, atau aktivitas lainnya.
Sulit?
Tentu
sulit. Tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan, kan? Bukan sebaliknya, malah
menganggap bahwa memandang aurat wanita (rambut, leher, punggung, dada, lengan,
betis, dsb) menjadi hal yang lumrah dan tidak berdosa lagi ketika hidup di
dalam sistem kehidupan dan peradaban kufur seperti sekarang ini. Inilah tips
mengendalikan pandangan yang ber-NAFSU SETAN
Tag :
PEMIKIRAN

0 Komentar untuk "Inilah tips mengendalikan pandangan yang ber-NAFSU SETAN"